
Tertarik dengan komoditas rempah, orang Eropa mulai melakukan perjalanan panjang melintasi benua dan samudera. Tujuannya untuk menemukan kepulauan penghasil rempah yang saat itu harganya konon sangat mahal di Eropa.
Kemudian setelah berhasil menemukan pulau-pulau yang menjadi lokasi sumber tanaman rempah, mereka mulai membuat hubungan perdagangan.
Hubungan perdagangan dilanjutkan lagi statusnya menjadi kerjasama yang tercantum dalam ‘kontrak’.
Berlanjut, kerjasama ditingkatkan lagi menjadi menjadi kerjasama atau kesepakatan politik dan keamanan dengan penguasa dan raja setempat.
Setelah wilayah politik sudah mulai dikuasasi untuk diintervensi, para pedagang Eropa tersebut mulai memaksa suatu daerah penghasil rempah untuk menandatangani perjanjian yang isinya mereka berhak menjadi pembeli tunggal komoditi tersebut.
Bahkan perusahaan dagang seperti VOC, mereka bisa membentuk tentaranya sendiri di daerah jajahan.
Penjajahan memungkinkan mereka menguasai sumber komoditas, kemudian dengan itu mereka bisa memonopolinya.
Orde Baru
Di era Orde Baru, kita masih bisa mendengar tentang bagaimana pedihnya petani cengkeh Indonesia dibuat frustasi oleh kebijakan pemerintah saat itu.
Melalui sebuah lembaga, konon Tommy Soeharto bisa menguasai cengkeh dengan menjadi pembeli tunggal, yang kemudian industri pengguna cengkeh, utamanya kretek hanya bisa membeli melalui perusahaan milik Tommy Soeharto. Sungguh VOC gaya Orde Baru.
Akibat kebijakan tersebut, perusahaan Tommy bisa membeli cengkeh petani dengan harga semurah semau dia. Kemudian bisa menjual dengan harga mahal, semahal-mahalnya bisa dijual.
Petani cengkeh dibantai habis, buat ongkos petik saja hampir tidak terbayar akibat terlalu murahnya harga cengkeh saat itu. Lalu petani mulai menebang pohon cengkehnya dan mengganti dengan tanaman lain.
Monopoli bocah kencur
Dia pikir Bangsa Indonesia ini milik kakek-buyutnya. Seenaknya saja bikin aturan semua bahan baku harus masuk ke dia, kemudian perusahaan sejenis tidak boleh beroperasi. Agar dia pegang merk yang mewakili suatu daerah tertentu.
Ini bisa terjadi di sebuah koperasi, kelompok tani, kelompok usaha, atau lembaga-lembaga mikro sejenis.
Dengan niat awal mensejahterakan petani misalnya, ia bahkan lebih hina dari VOC-nya Belanda.
Untuk itu kita mesti hati-hati, karena di alam kermerdekaan kita akan kesulitan, karena para kolonialis itu sewarna kulit, sebahasa dan seagama dengan kita. Meski banyak kesamaan, tapi kekejiannya dalam berbisnis tidak jauh beda dengan VOC.